trinak09's blog

Just another weblog

BAB 6 PENGETAHUAN KONSUMEN (CHAPTER 6 CONSUMER KNOWLEDGE)

March28

BAB 6 PENGETAHUAN KONSUMEN

(CHAPTER 6 CONSUMER KNOWLEDGE)

Summarize by Trina Kharisma (Majoring in Food Science and Technology, College of Agricultural Technology-Bogor Agricultural University)

  • Hasil dari proses belajar adalah pengetahuan.
  • Pengetahuan produk :

1. Ahli Psikologi Kognitif

a. Pengetahuan Deklaratif : Pengetahuan yang ada pada suatu produk

contoh : Kandungan Tempe

b. Pengetahuan Prosedur : Prosedur/cara untuk membuat atau mengolah suatu produk.

contoh : Cara untuk membuat jus jeruk yang enak.

2.Menurut Mowen dan Minor :

a. Pengetahuan Obyektif

b. Pengetahuan Subyektif

c. Pengetahuan Informasi lain

3. Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard :

a. Pengetahuan Produk : Menyebutkan suatu produk yang sudah bisa menguji pengetahuan suatu konsumen.

b. Pengetahuan Pembelian : Diantaranya adalah pengetahuan mengenai tempat pembelian suatu produk atau jasa.

contoh : Tempat bengkel yang bagus tapi murah

  • Pengetahuan Produk

1. Karakteristik produk : atribut produk

2. Pengetahuan tentang manfaat produk

Dalam point ini, brand menjadi hal yang penting. Diferensiasi produk mencakup kelas, produk, merek, bentuk, model/fitur, dll.

contoh : Kelas : Telepon

Bentuk : Selular

Merek            : Nokia

Model            : E63

Manfaat berkaitan dengan manfaat fungsional yaitu manfaat yang dirasakan konsumen, psikologis (aspek psikologis). Selain itu terdapat juga manfaat negative yang bisa dikenal sebagai risiko. Risiko didapat oleh konsumen akibat mengkonsumsi atau tidak mengkonsumsi suatu produk. Seringkali manfaat negatif tersebut dirasakan berdasarkan kepada persepsinya mengenai manfaat tersebut (perceived risk). Ada dua hal penting untuk memahami persepsi risiko yaitu adanya ketidakpastian (uncertainty) dan konsekuensi (consequency): manfaat atau outcome yang dirasakan setelah memberli atau mengkonsumsi produk. Persepsi risiko akan mempengaruhi jumlah informasi yang dicari konsumen. Persepsi risiko dapat dibagi kedalam 7 macam yaitu: Risiko Fungsi, Risiko Keuangan, Risiko Fisik, Risiko Psikologis, Risiko Sosial, Risiko Waktu dan Risiko Hilangnya Kesempatan.

Based on Ujang Sumarwan.2003.Perilaku Konsumen : Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran (Consumer Behavior : Theory and Application in Marketing)

www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

BAB 4 PENGOLAHAN INFORMASI DAN PERSEPSI KONSUMEN (CHAPTER 4 CONSUMER PERSEPTION AND INFORMATION PROCESSING)

March28

BAB 4 PENGOLAHAN INFORMASI DAN PERSEPSI KONSUMEN

(CHAPTER 4 CONSUMER PERSEPTION AND INFORMATION PROCESSING)

Summarize by Trina Kharisma (Majoring in Food Science and Technology, College of Agricultural Technology-Bogor Agricultural University)

Dua orang konsumen yang menerima dan memperhatikan suatu stimulus yang sama, mungkin akan mengartikan stimulus tersebut berbeda. Bagaimana seseorang stimulus akan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai, harapan dan kebutuhannya, yang sifatnya individual. Engel, Blackwell dan Miniard (1995) mengutip pendapat William McGuire yang menyatakan 5 tahap pengolahan informasi :

1. Pemaparan (exposure)

Yaitu kegiatan yang dilakukann oleh pemasar untuk menyampaikan stimulus kepada konsumen. Stimulus bisa berupa iklan, kemasan, merek, dan hadiah. Bagian dari pemaparan adalah sensasi, ambang absolute, dan ambang berbeda. Sensasi adalah respon langsung  dan cepat dari panca indera terhadap stimulus yang datang. Ambang absolute adalah jumlah minimum intensitas atau energi stimulus yang diperlukan oleh seorang konsumen agar ia merasakan sensate, contohnya adalah billboard iklan mie instan pada jarak 100 meter bisa dilihat konsumen A sedangkan konsumen B baru bisa melihat dengan jelas pada jarak 50 meter. Yang selanjutnya adalah ambang berbeda yaitu batas perbedaan terkecil yang dapat dirasakan antara dua stimulus yang mirip (Schiffman dan Kanuk, 2000 hal 124).

2. Perhatian (attention)

Terkadang konsumen mengalami perceptual selection yakni konsumen yang menyeleksi stimulus atau informasi mana yang akan diperhatikannya dan diproses lebih lanjut. Ada dua faktor utama yang mempengaruhi yaitu faktor pribadi dan factor stimulus. faktor pribadi ini biasanya berupa motivasi dan kebutuhan konsumen serta harapan konsumen. Sedangkan faktor stimulus bisa dikendalikan oleh produsen sendiri. Produsen harus kreatif dalam membuat stimulus dan memperhatikan ukuran, warna, intensitas, kontras, posisi, petunjuk, gerakan, movement, isolasi, stimulus yang dsengaja, pemberi pesan yang menarik, dan perubahan gambar yang cepat.

3. Pemahaman (comprehension)

Pemahaman adalah usaha konsumen untuk mengartikan dan menginterpretasikan stimulus. Perceptual organization yaitu konsumen cenderung untuk melakukan pengelompokan stimulus sehingga memandangnya sebagai satu kesatuan. Tiga faktor yang mempengaruhinya adalah gambar dan latar belakang, pengelompokan, dan closure.

4. Penerimaan (acceptance)

Penerimaan adalah dampak persuasive stimulus kepada konsumen.

5. Retensi

Proses memindahkan informasi ke memori jangka panjang disebut retensi. Informasi yang disimpan adalah interpretasi konsumen terhadap stimulus yang diterimanya. Selanjutnya apa yang tersimpan di dalam memori konsumen akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus yang baru. Memori terdiri atas  tiga system penyimpanan yaitu memori sensori (tempat menyimpan informasi sementara), memori jangka pendek (tempat menyimpan informasi untuk waktu yang terbatas dan memiliki kapasitas yang terbatas), memori jangka panjang ( tempat menyimpan informasi dalam jangka waktu yang lama dan memiliki kapasitas yang besar).

Kegiatan mental konsumen untuk mengingat-ingat informasi yang diterimanya dan menghubungkannya dengan informasi lainnya yang sudah tersimpan di memori disebut rehearsal. Tujuannya adalah untuk menahan informasi dalam shor term memory dalam waktu yang cukup agar bisa diakukan encoding. Encoding sendiri adalah proses untuk menyeleksi sebuah kata atau gambar untuk menyatakan sebuah persepsi terhadap suatu objek.

Based on Ujang Sumarwan.2003.Perilaku Konsumen : Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran (Consumer Behavior : Theory and Application in Marketing)

www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Proses Belajar Konsumen

March24

Nama    : Trina Kharisma

NRP       : F24090127

Mata Kuliah        : Perilaku Konsumen

Resume BAB 5

Proses Belajar Konsumen

Belajar adalah perubahan perilaku yang relative permanen yang diakibatkan oleh pengalaman (Solomon, 1999). Selain definisi tersebut masih banyak lagi definisi lain tentang belajar. Namun dapat disimpulkan bahwa belajar itu adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman, pengetahuan dan pengalaman ini akan mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku yang relative permanen. Hal penting yang harus diingat adalah bahwa belajar adalah proses yang berkelanjutan dan pengalaman memainkan peranan dalam proses belajar.

Syarat proses belajar yaitu motivasi, isyarat, respons, dan pendorong atau penguatan. Motivasi adalah daya dorong dari dalam diri konsumen. Isyarat adalah stimulus yang mengarahkan motivasi tersebut. Respons adalah reaksi konsumen terhadap isyarat. Pendorong adalah sesuatu yang meningkatkan kecenderungan seorang konsumen untuk berperilaku pada masa datang karena adanya isyarat atau stimulus.

Jenis-jenis proses belajar yaitu proses belajar kognitif (perubahan pengetahuan) dan proses belajar perilaku (pengalaman dengan lingkungan menyebabkan perubahan perilaku yang relative permanen). Sedangkan proses belajar perilaku terbagi menjadi tiga yaitu classical conditioning (belajar dengan pengulangan), instrumental conditioning, vicarious learning. Classical conditioning contohnya adalah percobaan Pavlov pada anjing. Konsep utama dari metode ini adalah pengulangan, generalisasi stimulus, dan diskriminasi stimulus. Generalisasi stimulus bisa dilakukan dengan perluasan lini produk yaitu dengan memperluas bentuk produk dan kategori produk, membuat merek keluarga yaitu dengan memberikan merk yang sama kepada semua lini produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan, me-too products yaitu konsep yang membuat kemasan produk menjadi mirip dengan produk pesaing, similar name yaitu konsep yang menrapkan nama kemasan/merek mirip dengan merek pesaing, licensing yaitu praktik pemberian merek dengan menggunakan nama-nama selebriti, nama desainer, nama produsen, nama perusahaan, bahkan tokoh-tokoh film kartun, generalisasi situasi pemakaian. Pada diskriminasi stimulus adalah kebalikan dari generalisasi stimulus oleh karena itu diskriminasi stimulus biasanya dipakai untuk melakukan positioning dan diferensiasi produk.

Proses belajar instrumental yaitu proses belajar yang terjadi pada diri konsumen akibat konsumen menerima imbalan yang positif atau negative karena mengkonsumsi suatu produk sebelumnya. Empat konsep penting yang ada pada metode ini adalah penguatan positif dan penguatan negative, hukuman, kepunahan, dan shaping. Vicarious learning adalah proses belajar konsumen yang dilakukan konsumen ketika ia mengamati tindakan dan perilaku orang lain dan konsekuensi dari perilaku tersebut. Beberapa penggunaan vicarious learning dalam strategi pemasaran yaitu mengembangkan respons baru, mencegah respons yang tidak dikehendaki, dan memfasilitasi respons.

“Mengapa harus kuliah di ITP IPB???”

December14

Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), mungkin tidak semua orang tahu banyak tentang departemen ini. Tapi bagi sebagian orang yang sudah mengetahuinya pasti memiliki pandangan yang berbeda. Awalnya, saya masih melihat sebelah mata mengenai departemen ITP. Teknologi pangan itu memangnya nanti kerja dimana? mau jadi apa saya kalau masuk jurusan ini? berbagai pertanyaan terlintas dibenak saya.

Pada awalnya saya ingin melanjutkan pendidikan saya ke jurusan kedokteran. tetapi karena keinginan saya itu sulit menjadi kenyataan, maka saya harus mencari alternative jurusan lain. Saat itu, kesempatan saya hanya tinggal SNMPTN. Ketakutan saya akan tidak dapatnya tempat kuliah semakin menjadi-jadi. Akhirnya saya berkonsultasi dengan guru-guru di tempat bimbel saya. Saat guru saya bertanya tentang hal yang membuat saya tertarik maka saya menjawab makanan. Saya memang memiliki ketertarikan yang cukup tinggi tentang dunia pangan, tapi hal tersebut tidak pernah terfikirkan oleh saya untuk mendalaminya. Karena hal tersebut, guru saya menyarankan untuk memilih jurusan ITP IPB. Memang saya sudah mengetahui jurusan itu sebelumnya, namun saya hanya sekadar tahu bahwa jurusan itu bagus tanpa menaruh minat sedikitpun. Tapi, saat guru saya yang notabene alumni IPB juga menjabarkan mengenai jurusan ITP pandangan saya langsung berubah. Saya mulai menaruh minat pada jurusan tersebut, sampai saya membuka website tentang itp(1),(ITP 2)

Selain ITP adalah jurusan yang bagus, ITP juga memiliki banyak prestasi yang gemilang. Prestasinya tersebut bukan hanya ditorehkan oleh para mahasiswanya tetapi oleh para dosennya juga. Mulai dari kejuaran tingkat lokal sampai dengan tingkat internasional diraih oleh ITP. Hal tersebut benar-benar menaikkan rating jurusan ini di IPB. ITP merupakan jurusan yang identik dengan orang pintar dan jurusan yang memiliki mahasiswa keturunan cina terbanyak di IPB. Itu merupakan keunikan tersendiri yang memang terturunkan setiap tahunnya.

Biaya kuliah menjadi pertimbangan selanjutnya yang saya perhatikan, namun ternyata, IPB mengeluarkan biaya yang tidak sebesar jurusan saya yang sebelumnya. selain itu, beasiswa pun dapat diraih disana.

Sebenarnya jurusan yang saya cari itu adalah jurusan yang menarik minat saya dan memiliki prospek yang tinggi. ITP adalah jurusan yang memberikan prospek yang cukup bagus. Lulusan ITP banyak bekerja diperusahan multinasional seperti Unilever, Danone, Nutrifood, dll; membuka usaha sendiri; bahkan bisa menjadi pimpinan Bank terkemuka di Indonesia. Dari sana, bisa kita simpulkan bahwa lulusan ITP sebenarnya sudah memiliki jaminan yang cukup menjajikan di dunia kerja, baik dikarenakan prestasi/pencapaian lulusan sebelumnya ataupun karena jurusan ini masih tergolong sedikit di Indonesia sehingga peluang kerjanya masih tinggi. Mengetahui hal tersebut, ketertarikan saya mulai muncul dan merangkak naik. Saya semakin yakin untuk memilih jurusan ini.

Ketika saya sudah masuk IPB, keyakinan saya mengenai jurusan ini semakin bertambah. Hal ini saya sadari ketika saya ditanya oleh teman saya mengenai departemen saya, saat saya menjawab ITP, teman-teman saya sontak bertepuk tangan dan menjuluki saya anak pintar. Selain itu, saat sayapun mendapat informasi lebih lanjut mengenai kualitas departemen ITP IPB yang sudah diakui oleh IFT menjadi kebanggaan tersendiri. Oleh karena itu saya, saya semakin yakin akan jurusan ini sekarang.